Monday, August 1, 2011

(GoVlog - Umum) Haruskah Disebut Alay?

Masih sepak bola yang menjadi topik kali ini. Semenjak pertandingan Pra Piala Dunia kemarin, Indonesia VS Turkmenistan berhasil dimenangkan oleh Indonesia, postingan yang sudah lama dipikiran ini akhirnya dapat ter-publish juga.

Di postingan kali ini saya ingin membahas tentang kesukaan saya dan tentunya juga banyak orang di negara ini yaitu sepak bola, khususnya tentang kesukaan saya menonton pertandingan liga lokal.

Hingga kapanpun saya pesimis (seharusnya sih tidak boleh) semua orang Indonesia bisa bangga dengan semua pemain beserta klub sepak bolanya. Kenapa? Karena image yang telah terbentuk sejak dahulu, klub beserta supporter yang mendukung masing - masing kub terkesan norak atau kampungan. Ke-norak-an ini terkesan dari sikap fanatik setiap pendukung klub yang sudah memiliki ciri khas dan nama masing - masing.

Kalau kita membicarakan soal fanatik, teringat suatu pernyataan dari Bambang Pamungkas pada suatu wawancara di radio, beliau menyebutkan beberapa perbedaan dari sepak bola di Indonesia dengan di sebuah negara lain di Asia yang terkesan merupakan suatu kekurangan, yaitu fanatisme dari supporter. Kurangnya fanatisme dari seorang supporter memberikan efek suntikan support yang terasa dingin ketika pertandingan sepak bola berlangsung. Sekarang mari kita tengok supporter di negeri ini, tidak hanya pada sepak bola, tetapi di berbagai bidang olah raga lainnya, sungguh luar biasa bukan suntikan yang kita berikan pada atlet - atlet Indonesia?

Sangat disayangkan, masih banyak yang memandang sebelah mata klub - klub lokal Indonesia. Bahkan masih banyak yang lebih bangga tuh menonton pertandingan antar klub luar negeri. Padahal dengan kita mendukung pertandingan atau liga antar klub lokal sama saja dengan mendukung sepenuhnya perkembangan atau kemajuan sepak bola Indonesia.

Memang, terkadang kefanatikan dari segerombol supporter memberikan rasa ketidaknyamanan bagi orang lain. Misalnya, ketika pertandingan Persija masih bersarang di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, kemacetan, kerusuhan, keonaran, dan lain sebagainya sulit dihindari, dan sayapun pernah merasa sangat tidak nyaman akan hal itu. Maka mereka pun dibilang alay, segerombolan pemuda - pemudi yang semau - maunya. Namun hey, lihat sekarang ini, supporter Indonesia semakin dewasa. Di setiap pertandingan lokal kini hampir tidak ada lagi hal - hal negatif yang tidak diinginkan terjadi. Kalaupun memang terjadi itu karena ada satu atau dua provokator yang niatnya bukan untuk menikmati pertandingan namun untuk memancing perpecahan.

Kecintaan seseorang terhadap suatu klub lokal masih dianggap sesuatu yang norak oleh sebagian orang jadi supporternya pun yang didukung tindakan - tindakan yang terkesan alay saat memberi dukungan akan dibungkus menjadi satu kata yaitu ALAY.
Oke, kembali pada judul, jadi haruskah dibilang alay? Semua orang memliki pendapat dan pandangannya masing - masing. Tapi untuk saya pribadi, seperti yang sudah diutarakan di atas, mendukung pertandingan antar klub di Indonesia merupakan suatu dukungan kita untuk kemajuan persepakbolaan Tanah Air. Ke-alay-an dan kefanatikan dari supporter dibutuhkan untuk memberikan suntikan semangat bagi para pejuang lapangan hijau untuk mem-booming-kan Indonesia di kancah Internasional. Semoga persepakbolaan dan supporter Indonesia semakin dewasa


Gambar dari http://suporter.info








Follow my blog with Bloglovin