Sunday, October 30, 2011

Merah dan Jingga



Sungguh jingga ingin menerobos merah, agar kelak merah merasakan menjadi jingga, menjadi yang setelah, menjadi yang sesudah, bukan menjadi yang terdahulu, bukan menjadi yang terutama.

Namun tatkala merah terdahulu dari jingga, apa daya jingga mengelak, memang tak ada yang terelakkan. Jingga pasrah, bukan karena tak berdaya, bukan karena tak merasa, melainkan hanya ingin menerima apa yang telah tertuliskan.

Tidakkah Kau mau meminjamkan jingga penghapusMu? Rasanya, memang tak mampu jingga meramu. Lalu apa jingga harus selalu mengadu untuk sesuatu yang pasti sungguh sempurna Kau ramu?

Jingga tak perlu menjadi merah. Merah pun kan segan menjadi jingga. Toh, merah dan jingga berdampingan, layaknya a dan b dalam alfabet, 1 dan 2 dalam numerik. Iya, berdampingan tapi dalam kemendungan atau bahkan dalam kelamnya malam, hingga tak terlihat mereka bersenandung mesra bersama sambil saling mengaitkan tangan - tangan mereka ke udara. 


Jingga memikirkannya, bukan, bukan merah, melainkan biasnya, dalam kusutnya kepingan hari bak hampa dalam sekam..




Follow my blog with Bloglovin