Saturday, February 25, 2012

#25


I fall in love everytime. And I don't really fall in love a lot, but when I do, I fall hard .
Seharusnya jangan dengan kata jatuh, karena setiap jatuh itu sakit, seperti adegan roman, tokoh terbang di angkasa dengan menggunakan sling. Se-aman mungkin dipersiapkan dan dilakukan, peluang jatuh tetap saja mungkin terjadi. Sama halnya ketika kita mencintai seseorang dengan rapi dan utuh, namun ternyata harus jatuh dan berakhir dengan kekecewaan. Mulanya sama - sama melayang, akhirnya sama - sama sakit.

Gulungan cerita ini bukan layaknya roman picisan yang pasti bahagia pada akhirnya. Babak demi babak terlewati, alur bergerak maju seiring waktu, tanpa adanya proses editing dan re-take. Tak ada tokoh yang direncanakan sendiri, tak ada skenario yang dapat ditebak, semua berjalan sebagaimana alur-Nya, alur yang tak dapat dipastikan oleh kita, hanya bisa diamini melalui seuntai harap. Namun, layaknya roman, setiap babak memiliki adegan, dan tentunya memiliki akhir cerita. Dan seuntai harap itu, kamulah akhir ceritanya.
Love waits for one thing, the right moment.
Everything needs the right moment, bahkan ketika harus memutuskan untuk berpisah dan melupakan. Tapi, kamu tahu, ada seuntai harap lainnya yang masih aku simpan, yaitu tidak pernah menemukan momen dimana kita berpisah dan saling melupakan.

Hanya harap (lagi), semoga kamu mengamini...
Tunggu, sejenak berubah pikiran; dengan kamu menghela nafas tanpa mengamini, sudah lebih dari cukup :)


(Bukan) Roman Picisan, 
Senja, di ruang rindu.


Follow my blog with Bloglovin