Friday, December 28, 2012

Berawal Menulis Hingga Bertemu Penulis


Late post : detected tuing..tuing..tuing~


Ehem, sebelum masuk ke cerita dinner-nya, saya mau cerita terlebih dulu pertama kali mengetahui Bara sampai kenapa saya bisa dinner dengan penulis yang juga memiliki nama panggilan Ucok :))

Saya mengetahui seorang Bernard Batubara itu karena pada awalnya mem-follow akun @Bukune, yang adminnya selalu ngegemesin dan bikin pengen nyubit pipinya :))
Pada saat akun tersebut mempromosikan novel Kata Hati karya @Benzbara_, saya langsung mencari akun tersebut dan melihat-lihat apa saja yang di-update oleh penulis yang satu itu dan tentunya untuk mengetahui testimoni dalam 140 karakter dari tweeps yang sudah membaca novelnya. Berkat itu semua, saya pun tertarik untuk ikut terlarut #ea di dalam Kata Hati seorang Bernard Batubara.

Setelah membaca novel tersebut, terbersit di pikiran, kok bisa ya seorang cowok lahiran '89 (what, '89? Ciyus?) membuat cerita yang begitu dramatis dan melankolis ha-ha-ha-ha.
Anyway, beberapa hal yang saya suka dari novel Kata Hati adalah begitu hebatnya si penulis mendeskripsikan latar, situasi, dan tokoh dengan lugas, serta seolah dapat memutar film di imajinasi  para pembacanya. Kerinduan pada kota Jogja tumbuh bahkan pada saat memulai membaca novelnya :)

Beberapa hari kemudian, asik scrolling timeline @Bukune, ternyata saya menemukan bahwa hanya tinggal dua hari untuk mengirimkan tulisan yang bertajuk : Beri Tahu Bara #KataHati-mu. Melihat peserta-peserta yang sudah mengirimkan tulisannya, hanya satu kata, minder. Namun karena ingin mencoba peruntungan, barangkali memang rejeki ketemu Bara, pada saat 15 menit kompetisi akan berakhir, dengan wajah yang memelas pucat pasi desperado, saya memutuskan untuk mengirim sebuah postingan lama yang sudah ada di blog saya sejak bulan Februari 2012 lalu, namun dengan beberapa kalimat modifikasi. Tidak beberapa lama setelah publish, Bukune was favorited my post and Bara was retweeted my post. It's really the power of kepepet! Ya, Ini Kata Hati, (Bukan) Roman Picisan, sebuah tulisan seadanya yang ternyata membawa saya bertemu, berbincang, bercanda-tawa #aih bukan hanya dengan Bernard Batubara tetapi juga Widyawati Oktavia.

***

Minggu, 23 Desember 2012.
Awalnya mau bareng sama Fe (@Veyylina) yang rumahnya di Pekalongan dan Maria (@MariaaPriscilla) yang rumahnya di Depok untuk berangkat bersama menuju Tamani Cafe, Kemang. Tapi karena beberapa hal yang menyebabkan Fe berangkat langsung ke TKP, akhirnya saya bersama Maria diantar oleh orang tua Maria yang baik hati sekali :) hingga tiba di TKP kepagian! Sekitar pukul 18 kurang beberapa menit, kami sudah duduk termangu di reserved table atas nama Widyawati Oktavia.

Mendengar nama Widyawati Oktavia buat saya tidak asing, pertama saya menyadari namanya tertera pada kata pengantar Bara di novel Kata Hati sebagai editor, dan ya! Saya sering mampir ke blognya, dan dia pun yang menulis novel Silang Hati dan Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)Lulu. Ah, senangnya dalam hati~ *nyanyi* :p

Sekitar pukul 19 lebih beberapa menit, akhirnya rombongan Bukune tiba di Tamani. Dimulai dengan perkenalan, memesan makanan, bercanda, berbincang, walaupun pada awalnya terdapat ke-grogi-an LOL.
Berbagai macam pertanyaan terlontar dari mulut Maria, Gita, Imam, Fe, dan saya.

Maaf untuk Kak Bara, saya nyeplos masalah umur, ha-ha-ha-ha-ha!! Tapi itu memang salah satu yang ingin saya tanyakan, mungkin di novel salah cetak lahiran '89 *kemudian saya dilempar sepatu* :))
"Aku pikir kamu malah lahiran '80 malah, Ndah!", dalam hati Kak Bara. LOL.

Kemudian, ketika saya bertanya mengenai pendidikan, honestly, I really really really fascinated to you, Kak! Lulusan IT dan kemudian menjadi penulis.
Dahulu, IT adalah salah satu keinginan saya berkuliah selain kedokteran. Sekarang, saya tenggelam di dunia farmasi dan jika saya melihat orang-orang lulusan IT, saya selalu kagum karena menurut saya, seorang IT itu mengkombinasikan dan menggunakan otak kanan dan terutama otak kirinya yang berkenaan dengan logika, fakta, perhitungan atau pertimbangan. Ahhhh, Kak Bara! #eh
Mencintai seni dengan menjadi penulis dan menyukai fotografi artinya You have a balance of the left and the right brain. Subhanallah :)





Bernard Batubara (Bara), sesosok ucok cerdas dan lihai menyeimbangkan otak kanan dan kirinya untuk menghasilkan segala sesuatu yang sesuai dengan passion. *fascinated*

Keep charming and humble, Kak Bara :)
Terima kasih atas inspirasi dan cerita masa lalu yang di-share saat dinner :)
Terima kasih sudah bersedia memberikan sepatah-dua patah kata pada video penyemangat kesembuhan adik tingkat saya, yang juga bernama Indah :)
Semoga cepat menemukan tulang rusuknya, supaya enggak sering modus sama cewek-cewek di timeline #eh #maapbecanda :))


Terima kasih Bukune, much love :*
Terima kasih atas goodie bag buku-buku kerennya :)
Semoga semakin sukses!

Semoga diberikan umur panjang dan bisa dateng ke premier Kata Hati the movie :)




Follow my blog with Bloglovin

Wednesday, December 19, 2012

Ini Kata Hati, (Bukan) Roman Picisan.


Aku ulangi, ini kata hati, (bukan) roman picisan..


I fall in love everytime. And I don't really fall in love a lot, but when I do, I fall hard .
Seharusnya jangan dengan kata jatuh, karena setiap jatuh itu sakit, seperti adegan roman, tokoh terbang di angkasa dengan menggunakan sling. Se-aman mungkin dipersiapkan dan dilakukan, peluang jatuh tetap saja mungkin terjadi. Sama halnya ketika kita mencintai seseorang dengan rapi dan utuh, namun ternyata harus jatuh dan berakhir dengan kekecewaan. Mulanya sama - sama melayang, akhirnya sama - sama sakit.

Gulungan cerita ini bukan layaknya roman picisan yang pasti bahagia pada akhirnya. Babak demi babak terlewati, alur bergerak maju seiring waktu, tanpa adanya proses editing dan re-take. Tak ada tokoh yang direncanakan sendiri, tak ada skenario yang dapat ditebak, semua berjalan sebagaimana alur-Nya, alur yang tak dapat dipastikan oleh kita, hanya bisa diamini melalui seuntai harap. Namun, layaknya roman, setiap babak memiliki adegan, dan tentunya memiliki akhir cerita. Dan seuntai harap itu, kamulah akhir ceritanya.
Love waits for one thing, the right moment.
Everything needs the right moment, bahkan ketika harus memutuskan untuk berpisah dan melupakan. Tapi, kamu tahu, ada seuntai harap lainnya yang masih aku simpan, yaitu tidak pernah menemukan momen dimana kita berpisah dan saling melupakan. Aku tak mau mendapati separuh hatiku kosong dan merapuh, ku harap kau pun demikian..

Hanya harap (lagi), semoga kamu mengamini...
Tunggu, sejenak aku berubah pikiran; dengan kamu menghela nafas tanpa mengamini, sudah lebih dari cukup bagiku :)


(Bukan) Roman Picisan, 
Senja, di ruang rindu.



***




 Website Bukune (http://www.bukune.com/)
        Fan page Facebook Bukune (http://www.facebook.com/bukunepenerbit)
        Tumblr Bukune (http://bukune.tumblr.com/)





Follow my blog with Bloglovin